Nyambung Hidup, PKL Sumenep Nyebar di Sejumlah Lokasi Strategis

PortalMadura.Com, Sumenep – Pedagang Kaki Lima (PKL) eks relokasi Taman Bunga (TB) mulai menyebar di sejumlah lokasi, baik kota maupun pinggiran kota Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pantauan PortalMadura.Com, para PKL itu ada yang menempati jalan belakang Kodim 0827, jalan Setia Budi Kolor, Jalan Batuan, Museum Keraton keselatan.

Bahkan, salah satu PKL yang mempunyai kontrakan di belakang masjid jamik Sumenep berusaha mencari lokasi ke wilayah Bluto Sumenep.

“Kalau di Giling sudah tidak mungkin. Harus mencari lokasi lain untuk nyambung hidup,” kata salah satu PKL, Heni, yang menempati depan Makodim 0827 Sumenep sebelum di relokasi ke Giling, Sumenep.

Selama di TB, ia mengaku bisa mendapatkan rata-rata Rp300 ribu per malam. Namun, sejak menempati Giling, sulit untuk mengembalikan pelanggannya.

“Setiap malam, sulit mendapatkan Rp100 ribu kalau di Giling,” ucapnya, seraya memohon agar dapat izin menempati Jalan Soetomo Sumenep (ke timur dari TB).

Sejak usai lebaran Idul Fitri 1437 H, Pemerintah Daerah Sumenep merelokasi PKL ke depan Lapangan Giling, Sumenep. Alasannya, TB masuk zona hijau.

Namun, tempat baru tersebut dinilai tidak strategis oleh PKL, sehingga PKL mengajukan opsi agar bisa menempati jalan Soetomo atau ke timur dari TB. Opsi tersebut juga ditolak oleh pemerintah daerah.

Bisa Merusak Tatanan Kota

Aktifis Gerakan Anti Korupsi Indonesia (Gaki) Sumenep, Ahmad Farid menilai, jika para PKL itu menyebar di sejumlah lokasi yang dianggap strategis adalah suatu yang wajar dilakukan.

“Mereka ingin mencari makan keluarga dan biaya putra-putrinya yang masih sekolah. Jadi, wajar kalau menyebar,” ujarnya.

Ia yang selama ini getol dan mengawal gerakan PKL memprediksi, tatanan kota akan bertambah rusak jika PKL menyebar tanpa ada aturan yang jelas.

“Sumenep belum punya Perda PKL. Opsi yang ditawarkan PKL juga masih dalam pertimbangan. Lalu, sampai kapan pengaturan PKL akan tuntas. Jika pemerintah daerah tidak secepatnya mengambil keputusan,” ujarnya.

Sikap keras Pemerintah Daerah yang tetap akan menempatkan PKL di Giling, dinilai sikap yang kurang memahami terhadap kondisi riil para PKL.

“Bupati maupun wakil bupati jangan hanya mengambil keputusan atas masukan dari pembisik yang mempunyai kepentingan terselubung,” tandasnya.

Lokasi Sementara

“Penempatan PKL di Giling yang bersifat sementara, sambil menunggu pembangunan permanen untuk PKL kurang tepat untuk menyambung hidup. Banyak lokasi lain yang strategis bila hanya untuk sementar,” sambung Ahmad Farid.

Ia pun mengusulkan banyak opsi jika hanya sementara, misalnya, lingkar barat, jalan Diponegoro (simpang 4 kota kebarat), depan Keraton Sumenep-Labeng Mesem ke selatan.

“Jangan di paksakan di Giling,” katanya.

Aktifis Gaki ini juga meminta Bupati Sumenep A Busyro Karim dan Wakil Bupati Achmad Fauzi, tidak gegabah untuk membangun lokasi PKL secara permanen.

“Kaji dulu lahannya, jangan-jangan kontribusi PKL tidak masuk ke APBD. Hindari kepentingan terselubung, apalagi PKL dijadikan konsumsi politik orang-orang tertentu atau kelompok. Kalau ini yang terjadi, PKL tidak akan pernah sejehtera,” tukasnya.

Fasilitas PKL

Bupati Sumenep A Busyro Karim, Minggu (14/8/2016), dengan tegas menyatakan bahwa PKL tetap di Giling.

Orang nomor satu di Sumenep ini mengklaim sudah ada dana Rp2 miliar untuk pembangunan tempat PKL dilokasi tersebut. “Pada tahun 2017, secara permanen ya disana (Giling, red), sekarang tinggal penyempurnaannya,” katanya.

Interesting links

Taxes
01
Portfolio
02
Security
03
Education
04

Download Our App